Sepertinya masalah anjing sedang menjadi buah bibir dalam perbincangan tanah air. Pertama, ceramah Ustaz Mizan Qudsiyah yang menyebut ada makam kotoran anjing (tain acong:Sasak) yang sering diziarahi orang. Sebenarnya, ini tidak jadi masalah bila didengar kalangan sendiri. Toh, dalam video, pendengarnya mesem-mesem saja. Namun, menjadi masalah ketika didengar kelompok lain yang pahamnya berseberangan. Ceramahnya pun dipotong. Niatnya baik ketika menyiarkan kepada khalayak, tetapi malah menjadi bumerang. Markas golongan Ustaz Mizan diserang oleh mereka yang tidak setuju. Ustaz Mizan kemudian dijadikan tersangka. Belum terdengar kabar pengunggah dan yang memotong ceramah itu apakah ikut diperiksa atau tidak.
Kedua, peraturan Menteri Agama yang mengatur TOA kemudian dipersoalkan banyak orang. Padahal itu mengulang aturan tahun 1978. Ditambah lagi kemudian pelintiran berita ketika Menteri Agama kemudian dituduh menyamakan suara azan dengan gonggongan anjing. Sekali ini masalah pemotongan berita. Padahal banyak ahli mengatakan tidak persis demikian. Namun, yang namanya kebencian itu ya tetap salah. Di kalangan teman-teman di dunia nyata dan maya kemudian mereka yang protes kepada ucapan Menteri Agama itu beririsan dengan pendukung Prabowo-Sandi pada tahun 2019. Heran ketika elite sudah rekonsiliasi dengan bergabung dalam pemerintahan. Berkuasa kok massa malah masih saling membenci? Apa mereka pendukung PKS dan PAN yang menyatakan diri oposisi terhadap pemerintahan? Wallahualam.
Dunia sekarang ini memang rumit. Susah membedakan mana yang benar, salah, fakta, fiksi, jujur, dan bohong. Apa pasal? Karena derasnya informasi dari media sosial. Informasi itu bagai bah banjir yang menyerang kita terus-menerus sampai tempat tidur. Susah kita membendung dan memilahnya. Ini mungkin yang disebut sebagai era post-truth (pasca-kasunyatan: Jawa) (Bre Redana, 2021). Mesin pencari dan media sosial menyebarkan berita dengan lekas, tetapi terjadi ketidakseimbangan. Dengan gawai di tangan kita bisa tidak membendung arus informasi. Kita harus kritis menghadapinya. Kita harus bisa memetakan masalah, dilema, kotradiksi, dan paradoks dalam bah informasi digital itu (Agus Sudibyo, 2019).
Sebenarnya bagaimana posisi anjing dalam sejarah kita? Dulu di ujung Aceh ada kerajaan namanya Samudera. Kerajaan besar dan sejahtera pada zamannya. Nah, raja itu punya anjing kesayangan bernama Pasai. Karena sayangnya pada anjing itu, nama kerajaan berubah menjadi Samudera Pasai. Kemudian, kerajaan itu tenggelam dalam sejarah. Apa sebabnya sejarawan berbeda pendapat? Salah satunya mengatakan karena anjing bernama Pasai itu mati. Pasai mati kerajaan runtuh.
Kemudian ketika kita baru merdeka, Bung Hatta dan Bung Karno dijuluki “Anjing Jepang” oleh Belanda. Hal ini karena mereka menuduh kemerdekaan diraih bukan karena perjuangan rakyat Indonesia, melainkan karena pemberian Jepang. Mirip-mirip dengan kemerdekaan Malaysia yang katanya pemberian Inggris itu. Setelah menang Perang Dunia Kedua, Belanda bernafsu betul untuk menjajah kembali Indonesia. Namun, pihak Indonesia tak mau menyerah. Perang yang paling sensasional, yaitu Serangan Umum Satu Maret. Meskipun hanya menguasai ibukota hanya dalam enam jam, gaungnya sampai internasional. Tidak salah bila kemudian dikatakan itu menjadi salah satu sejarah penting untuk mempertahankan kemerdekaan. Oleh karena itu, layak kita menghaturkan sembah sujud dan terima kasih kepada ngarso dalem Sri Sultan Hamengkubowono IX atas jasanya sebagai inisiator dalam serangan itu.
Sebagai balasan, pejuang kemerdekan juga menyebut Belanda sebagai “Anjing NICA” (Netherland Indies Civil Admnistration) karena mereka benar-benar teguh memegang keinginan menjajah Indonesia. Banyak pihak mengatakan kejayaan Belanda itu akibat hasil bumi Indonesia yang diperas ratusan tahun. Belum lagi ketika ditemukan pasukan Belanda bukan hanya orang Belanda, melainkan bermacam-macam. Yang paling menakutkan itu tentara asal Gurkha, tentara berkulit keling. Mereka kejam sekali pada pejuang Indonesia meski kemudian ada tentara Belanda yang akhirnya memilih berada di pihak Indonesia karena menuruti hati nuraninya. Mereka merasa apa yang dilakukan salah dari sisi macam-macam: etika, hukum internasional, agama, dan sebagainya.
Ada sindiran pedas pada masa penjajahan itu. Di tempat-tempat tertentu kemudian seperti kamar bola ada tulisan “verbodden voor horden and inlander!” (dilarang masuk bagi anjing dan pribumi!). Kurang ajar betul itu tulisan. Pribumi Indonesia manusia ciptaan Tuhan yang berakal disamakan dengan anjing yang hanya punya insting. Orang Belanda dan Indonesia juga sesama manusia punya akal serta potensi yang sama untuk maju. Namun, mengapa orang Belanda maju? Karena potensi mereka dimaksimalkan melalui pendidikan dan latihan. Sementara itu, orang Indonesia tertinggal dalam pendidikan. Orang Indonesia mulai mengenal Pendidikan modern sejak era Politik Etis awal tahun 1900-an. Hal ini tersebab kaum liberal di Belanda memenangi persaingan politik dan merasa mereka punya utang pada tanah jajahan, termasuk Hindia Belanda (nama Indonesia sebelum merdeka). Orang di tanah jajahan kemudian diberikan pendidikan sebagaimana orang Belanda meski tidak benar-benar sama dan untuk kalangan tertentu saja.
Pada zaman kiwari istilah anjing juga bermasalah. Dalam bahasa prokem kemudian muncul kata anjay. Kalau mencari di kamus kata ini tidak punya arti. Kata ini merupakan plesetan dari kata anjing sehingga sesungguhnya kata ini bermakna kasar sebagai umpatan. Namun, dalam bahasa prokem kemudian malah terbalik menjadi kiasan atas kekaguman terhadap sesuatu. Jadi, apakah itu umpatan atau sanjungan bergantung pada konteks di mana kata itu berada. Polemik kemudian sampai lembaga negara sehingga kemudian ikut sumbang saran pada kata. Hal ini penting karena kualitas bangsa ditentukan dari penghargaan pada bahasa.
Anjay!!!!
*Judul terjemahan buku George Orwell Animal Farm oleh Mahbub Djunaidi.
Komentar & Diskusi (0)
Login untuk berkomentar.