Thumbnail

Camping Pertama Bulan

Oleh: Syakila | Kategori: Log Naratif

Kini sebagian besar orang sedang fomo (fear of missing out) dengan mendaki. Mereka berbondong-bondong pergi mendaki mencari keindahan alam atupun hanya sekadar ikut-ikutan tren. Namun, tidak demikian dengan Bulan Syafana Letta yang kerap dipanggil dengan sebutan Bulan. Bulan tidak begitu tertarik dengan mendaki apalagi hanya ikut fomo seperti orang-orang di luar sana. Ia tidak tertarik dikarenakan ia khawatir pada kesehatan dan ketahanan tubuhnya. Apalagi mengingat ia memang tidak bisa terlalu capek beraktifitas karena  ia memiliki riwayat sesak. Ia seringkali pingsan.

“Hei, sendirian aja?” sapa Putra, kakak kelasnya. Ia tiba-tiba datang menghampiri Bulan.

"Eh, Kak Putra… Iya nih, Kak, sendiri.”

“Ada apa, Kak?" tanya Bulan.

“Besok ikut muncak, yuk!”

“H-hah? Muncak? Ke mana?” jawab Bulan terkaget bingung.

“Iya, muncak, tektok aja kok. Mau nggak?”

“Hmmm… Mau sih, t-tapi gimana yah, aku …”

“Tapi apa? Ikut ajalah yuk! Ajak aja temannya yang lain juga biar ramai.”

“Hmmm… oke, tapi besok aku liat kondisi dulu ya, Kak?”

“Oke… sudah, besok infoin aja, ya.”

“Oke…”

Kriiiiinggg …

Bel masuk berbunyi.

Duh, gimana yah? Ikut apa nggak? Duh, aku bingung lagi minta izin ke mama gimana? Aduh … Bulan membatin sepanjang koridor menuju kelasnya. Oh iya, apa aku ajak aja abangku, ya? Kan dia sering pergi muncak, dan nggak mungkin juga kan aku nggak diizinin? Nice idea! Setelah berpikir panjang, Bulan mendapatkan ide yang memungkinkannya ikut pergi muncak.

Ketika ia memberi tahu abangnya, respons yang Bulan terima di luar dugaannya. Abangnya menolak. Bulan bingung harus bagaimana lagi untuk minta izin ke orang tuanya. Oiya, aku coba ajak teman-teman yang lain dulu saja. Siapa tahu aku diizinin pergi kalau ramai-ramai, iya kan? Bulan bergumam.

“Charlien, mau ikut nggak besok?” tanya Bulan melalui pesan yang dikirim pribadi ke Charlien teman kelasnya.

“Ikut ke mana Bulan?”

“Ikut tektok yuk, diajak sama Kak Putra nih, disuruh ngajak teman-teman yang lain juga biar ramai, katanya.”

“Wiiihh, mau dong! Iya,  aku mau ikut. Aku ajak Naya juga ya?”

“Ajak aja biar kita ramai-ramai perginya. Ajak teman yang lain, siapa gitu juga, ajak aja.”

“Oke, pasti seru banget yah! Terus kapan nih kita pergi?”

“Kalau itu, nanti tanya Kak Putra lagi ya? Nanti kita omongin bareng-bareng.”

“Oke.”

Pada akhirnya mereka pergi muncak bersepuluh. Ada Putra, Zayhan, Ariza, Bumi, Thio, Tori, Naya, dan Arda.

***

Mereka berbincang-bincang di kantin sekolah, membicarakan tentang rencana mereka pergi muncak. Awalnya mereka hanya berencana pergi tektok di sebuah bukit, tetapi teman-temannya lebih memilih untuk camping dengan niat mencoba pengalaman baru. Ini kali pertama Bulan dan teman-temannya pergi camping. Tidak demikian dengan Zayhan dan Putra yang sudah terbiasa dari SMP.

“Jadinya mau tektok  atau camping nih?” tanya Putra.

Camping aja yuk! Aku pengen banget camping,” jawab Ariza.

“Iya, camping aja. Aku juga pengen banget camping, pasti seru!” kata Charlien dengan senang.

“Iya mending camping aja,” kata Naya.

“Hmmm, boleh, menurut Zayhan, Putra, dan Bumi gimana?” tanya Bulan.

“Ayo aja! Kami mah ngikut. Kami kan jadi porter kalian doang,” jawab Putra dan Zayhan bercanda.

“Ngikut!” jawab Bumi berbarengan dengan Thio, Tori, dan Arda.

“Oke sudah. Jadi, fix yaa, kita jadinya camping,” kata Bulan.

Kini mereka sibuk mencari tempat penyewaan peralatan camping. “Apa saja yang kita sewa dan ngeluarin uangnya sama berapa?”

“Tas, makanan, jaket, tisu basah, peralatan makan, obat pribadi. Bagi yang perempuan jikalau lagi halangan bawa pembalut ya! Oiya, dan yang paling penting membawa mi, air minum, dan bagi yang memiliki senter jangan lupa bawa. Soalnya perkiraan kita bakal mendapatkan track malam, nggak apa-apa, ya?” ucap Putra jelas.

“Untuk uang itu kita ngeluarinnya sama-sama dua puluh lima ribu aja,” ucap Ariza.

“Okeee…”

Setelah selesai berdiskusi, mereka pun balik ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa besok selama mendaki.

***

Bulan sudah mempersiapkan barangnya lebih dahulu. Setelah itu ia mencoba memberanikan diri untuk minta izin ke mamanya.

“Mah, aku izin pergi camping bareng teman-teman aku yah, Mah…” ucapnya sedikit ragu.

Camping di mana kamu, Nak?” tanya mamanya.

“Di … ini …. Kok, Mah. Dekaaat …” Bulan tidak ingin berlama-lama, takut mamanya berubah pikiran. “Udah ya, Mah, aku berangkat dulu. Dadah… Mamah…” Bulan pun pergi tanpa menjelaskan mamanya.

Sebelum berangkat, Bulan dan teman-temannya mengecek ulang barang-barang.

“Cek barang-barang bawaan masing-masing, ya? Jangan sampai ada yang ketinggalan, ya!” sorak Putra.

“Okey!” ucap semuanya berbarengan. Setelah selesai memeriksa barang bawaan, mereka pun berangkat usai melaksanakan salat asar. Perjalanan yang mereka tempuh kurang lebih 32 kilometer sehingga mereka mendapatkan track malam. Saat sampai di tujuan, Bulan dan teman-temannya membeli tiket masuk.

“Waaah … sudah sampaai!!!” sorak Naya dan Charlien bahagia.

“Dingin sekali, yah? Duh, aku lagi halangan. Ini baru hari kedua, semoga tak terjadi apa-apa deh. Aamiin…,” ucap Bulan.

“Iyaaah…, dingin bangett, tapi kok aku jadi was-was yah gegara kamunya lagi halangan. Ini sudah mau magrib lagi,” ucap Arda.

“Hah, maksud kamu?” tanya Bulan tidak mengerti.

“Ayoo, teman-teman, segera berkumpul di sini. Ini sudah jam 5 agar kita tidak kemalaman!” panggil Putra.

Selesai membeli tiket, mereka pun mengawali perjalan dengan berdoa bersama. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan mendaki bukit. Sepanjang seperjalanan mereka selalu dikageti oleh monyet-monyet yang bergelantungan. Pos 1 telah terlewati, suasana gelap, kabut mulai tebal, dan track-nya pun semakin berlika-liku. Kini mereka sudah setengah seperjalanan memasuki pos 2. Ketika sudah memasuki pos 2, mereka beristirahat sebentar, tetapi tidak dengan Naya dan Charlien yang terus melanjutkan perjalanannya semata-mata sudah hafal track bukit tersebut. Di tengah-tengah istirahat, tiba-tiba keanehan mulai terjadi pada Arda. Ekspresi mukanya seperti melihat sesuatu.

“Hei, kamu kenapa?” tanya Ariza memandang Arda bingung.

“E… hah…  iya? A… aku nggak apa-apa…”

“Udah istirahatnya, mau jalan lagi?”

“Iya, udah yuk, jalan lagi!”

Ketika mereka melanjutkan perjalanan lagi suasana semakin dingin dengan kabut tebal menyelimuti pepohonan. Arda yang dari awal merasa enjoy tiba-tiba saja mengeluh merasakan tasnya terasa berat sekali. Namun, teman-temannya tetap positive thinking bahwa itu hanyalah faktor kelelahan saja. Perjalanan terus dilanjut hingga kini memasuki pos 3. Lagi dan lagi Arda menjadi aneh. Kini ia tiba-tiba menangis tanpa keterangan, tapi suara tangisnya yang ini berbeda dari biasanya. Dia menangis sambil ketawa cekikikan.

“Arda? Kamu kenapa?” tanya Ariza khawatir yang sedari tadi bersamanya.

“Lah… malah makin nangis, eh tapi kok, seperti bukan dia, ya?” tanyanya lagi heran.

“Kerasukan?” sambung Putra spontan.

“Astaghfirullahhal ‘adzim, lah iya!”

“Duh, gimana nih? Ardaaa! Sadar, Arda! Hei…” Ariza panik.

Bulan dan teman-temannya panik, tidak tahu cara menangani orang yang kerasukan. Namun, pada akhirnya Ariza mencoba untuk membacakannya ayat suci Alquran. Bukannya keluar, jinnya malah semakin sorak kepanasan. “Aaak, panasss… Aku akan tetap di sini. Nggak akan keluar dari badan anak ini! Aaak… panasss…” Ariza tanpa henti membacakannya ayat Alquran. Akhirnya Arda mulai sadar walau ia masih tetap bisa melihat sosok makhluk ghaib.

 Namun sebenarnya, Bulan dan Bumi sudah terlebih dahulu melanjutkan perjalanannya ketika Arda masih setengah sadar. Mereka mendahului rombongan dengan tujuan menyusul Naya dan Charlien yang sudah hampir sampai di puncak. Di sepanjang  perjalanan sedari tadi hati Bulan berdegup begitu kencang dan dadanya terasa sakit. Sehingga ketika di pertengahan jalan, tiba-tiba dada Bulan terasa semakin sakit. Bumi yang berada di depannya ikut panik balik badan melihat Bulan sesak tak karuan. Bumi bingung  apa yang harus ia lakukan untuk menangani Bulan yang sesak.

 “Hah… hah... hah...” Bunyi napas Bulan sedari tadi tak karuan dengan kondisi badannya gemetaran ditambah suhu badannya yang dingin menurun di bawah 35 derajat celcius.

 “Bul… Bulan? Eh… Kamu sesak?” tanya Bumi panik. “Ki… kita istirahat dulu aja ya… Kamu atur napas kamu dulu,” lanjut Bumi.

Bumi mencari botol air yang ia bawa di tasnya lalu membuka tutup dan menyodorkan air mineral itu ke Bulan “Ini nih… kamu minum dulu.”

Setelah Bulan selesai minum, Bumi bertanya lagi.  “Udah merasa mendingan nggak sesaknya? Napasnya udah normal lagi?” Ia berusaha menenangkan Bulan sambil menggosok-gosok tangan Bulan dengan tujuan menghangatkannya. Napas Bulan sudah kembali seperti semula, tapi suhu badannya masih di bawah normal sehingga Bumi terus berusaha membantu Bulan untuk mengembalikan suhu badannya dengan berbagi kehangatan tubuh sehingga bisa balik normal. “Sini aku bantu biar kamunya hangat!” Bumi pun menggosokkan tangannya kepada Bulan bak menetralkan suhu tubuh Bulan. “Zzztt… huuhhh…” Badan Bulan masih terus dingin menggigil. Bumi tetap berupaya menangani Bulan dengan lembut dan memastikan pakaiannya dalam kondisi kering.

“Udah baikan nggak? Bisa kita lanjut lagi? Biar cepat sampai puncaknya nih. Lima menit lagi, kok.” Bumi menenangkan Bulan. Frasa ‘lima menit’ sudah tidak asing lagi di telinganya. Frasa itu sering disebut oleh para pendaki semata-mata Sebagai penyemangat diri dan pendaki lain.

“I-iyaah udah, yuk jalan lagi… Ini udah kemaleman banget. Belum lagi bikin tendanya, pasti lama, yuklah …”

“Yakin kamu udah mendingan? Kalau iya, ya udah yuk kita lanjut lagi.” Bumi membantu Bulan berdiri karena Bulan selalu kehilangan keseimbangan karena tas yang dibawanya besar. Mereka berdua melanjutkan perjalanan. Akhirnya ketika sampai di puncak, mereka bertemu dengan Naya dan Charlien.

“Waaah… indah sekali! Lampu-lampu rumah warga seperti di perkotaan di atas awan.”

 “Oiya, Bumi, mana teman-teman yang lain? Bukannya sama kalian?” tanya Naya dan Charlien.

“Iya, tadi sih pas kalian duluan itu, kami masih bareng, tetapi ketika istirahat sebentar kami berdua meninggalkan teman-teman yang masih di belakang.”

“O iya sudah biarkan saja. Kita langsung bikin tenda dulu atau menunggu yang lain?”

“Tunggu yang lain dulu aja.”

“Akhirnya, sampaii juga puncak! Wow, indah banget! Masyaallah…,” ucap Ariza bahagia.

Mereka pun camping dengan gembira hingga pulang ke rumah masing-masing.

Beri Rating Transmisi Ini

Rating: 0.0/5 (0 suara)

untuk memberi rating.

Komentar & Diskusi (0)

untuk berkomentar.